Nazarudin,Walter Payne dan Sang Alcapone


Ingat posisi peran Nazaruddin seperti Walter Payne, orang yang dipercaya mengatur pembukuan keuangan kerajaan mafia pimpinan Al Capone.
3 Pertanyaan Dasar Kasus M Nazaruddin :

Benarkah OC Kaligis yang sanggup mengembalikan Neneng dan membawanya ke KPK dalam waktu dekat ?..

Apakah terjadi BARTER kasus dengan membebaskan Neneng Sri Wahyuni disaat perjalanan pulangnya M Nazaruddin ?.

Benarkah KPK menyimpan “Dendam” pada sang pengacara (OC Kaligis).

Posisi Neneng Sri Wahyuni yang misterius :“Kita belum tahu posisinya,” ujar Ketua KPK Busyro Muqoddas saat menjawab pertanyaan wartawan dalam jumpa pers di KPK, Jl HR Rasuna Said, Jakarta Selatan, Minggu (14/8/2011).
Busyro mengatakan Neneng pernah bersama-sama dengan Nazaruddin, Nazir Rahmat, dan Eng Kian Lim Garret. Namun mereka akhirnya berpisah jalan, karena Neneng pergi meninggalkan Kolombia terlebih dahulu bersama Garret yang berkewarganegaraan Singapura.
“Neneng dan Garret meninggalkan Kolombia 25 juli 2011. Sedangkan Nazir dan Nazaruddin 7 Agustus pada saat ditangkap hendak meninggalkan Bogota ke Malaysia,” tutur Busyro.

Mengutip keterangan Kadiv Humas Polri Irjen Pol Anton Bachrul Alam mengatakan, saat ditangkap, Nazar tidak melakukan perlawanan apapun. “Dia tidak sendiri, ada istrinya. Mereka sedang duduk-duduk di suatu tempat,” ujar Anton di Mabes Polri, Jakarta, Senin (8/8/2011).

Rentetan keterangan pihak pihak berkompeten memberikan sebuah gambaran Kasus Nazaruddin telah di BARTER dengan kehadiran Neneng:

Baiklah saya mengutip Koran El Tiempo Media Lokal yang memberitakan Tertangkapnya M Nazaruddin dan 2 Warga Negara Indonesia ( Misteriusnya Neneng Sri Wahyuni dan Nazir).

Indonesio capturado en Colombia venía a ver el Mundial Sub 20
Se trata de uno de los hombres más buscados en Indonesia y en otros 188 países.
El hombres fue sorprendido la mañana del domingo en el aeropuerto de Cartagena cuando pretendía viajar a Bogotá para ver los partidos del mundial de fútbol Sub 20.
Así lo aseguró la embajada de Indonesia en Colombia, que el lunes realizaba con la Cancillería los trámites para agilizar el envío de Muhammad Nazaruddin, quien es requerido por apropiarse de al menos 20 millones de dólares en su país.
Voceros de la Embajada en Colombia confirmaron que Nazaruddin portaba una identificación falsa, con la que viajó por varios países; pero la Policía detectó irregularidades en el pasaporte que terminaron por revelar su verdadero nombre.
Nazaruddin, de 33 años y nacido en Bangun, había llegado el 22 de julio pasado a Bogotá en calidad de turista, en un vuelo charter procedente de Washington (EE. UU), de acuerdo con reportes oficiales. Luego, se había trasladado a Cartagena, donde, según las autoridades, había rentado un apartamento en el tradicional sector de Bocagrande, el cual al parecer estaba compartiendo con otros dos indonesios, con quienes fue sorprendido en el momento de la captura.
El extranjero tenía circular roja de Interpol desde el 4 de julio pasado, luego de que fuera expulsado de su cargo como tesorero del partido Demócrata, al ser investigado por desvío de fondos.

Este partido político es el mismo al que está afiliado el presidente de Indonesia, Susilo Bambang Yudhoyono, quien en 2009 fue reelegido para un segundo mandato con la promesa de acabar con la corrupción, según reseñó ayer la prensa de ese país.
Fuentes indonesias dijeron que Nazaruddin al parecer había dejado el país en mayo pasado, desde cuando comenzó un viaje que lo llevó por países como Singapur, Malaysia, Argentina, España, y que terminó el fin de semana en Colombia.
De acuerdo con las autoridades en ese país, Nazaruddin era buscado no solo por corrupción sino también por sobornos en asuntos relacionados con la organización de los Juegos del Sudeste Asiático, que se realizarán en noviembre próximo.
Mientras se define bajo qué figura Nazaruddin será enviado, el extranjero será traído a la capital por seguridad.
REDACCIÓN JUSTICIA 

Terjemahan ringkas :

Media local El Tiempo Dalam berita edisi 8 Agustus dengan judul “Indonesio capturado en Colombia venía a ver el Mundial Sub 20″ (Orang Indonesia ditangkap di Kolombia untuk menonton Piala Dunia U-20), Nazaruddin disebutkan siap terbang ke Bogota, ibu kota Kolombia, untuk menonton pertandingan sepak bola.

Disebutkan pula,Nazaruddin yang berusia 33 tahun dan lahir di Bangun itu telah tiba di Bogota sejak 22 Juli sebagai turis. Ia menumpang pesawat carteran dari Washington DC ,Amerika Serikat.
Nazaruddin kemudian menetap di Cartagena, Kolombia, dengan menyewa sebuah apartemen di Boca Grande, sebuah kawasan tradisional di Cartagena.
Koran berbahasa Spanyol, El Tiempo menyebutkan, di apartemen itu Nazaruddin tinggal bersama dua warga negara Indonesia lainnya yang sama-sama tertangkap saat Nazaruddin ditangkap.

Neneng Sri Wahyuni dan Nazir ? dari beberapa sumber yang dapat dipercaya Neneng Sri Wahyuni dan Nazir tercatat sebagai penyewa Apartemen bersama M Nazaruddin.

Polemik antara OC Kaligis dan KPK hendaklah tak menjadikan Masyarakat Indonesia “Gila Temporer”.
Ingat posisi peran Nazaruddin seperti Walter Payne, orang yang dipercaya mengatur pembukuan keuangan kerajaan mafia pimpinan Al Capone,maka “KABARET” ini akan berlanjut dari panggung ke panggung.
Jika OC Kaligis benar dapat memulangkan Neneng Sri Wahyuni seperti yang dikatakannya,maka perlakuan KPK terhadap OC Kaligis menjadi jawaban,bahwa OC Kaligis telah mengetahui Skenario KABARET ini. “BARTER KASUS”.(ingat pernyataan Komisi Etik KPK bahwa ada rekaman upaya Pembunuhan pimpinan KPK).
Masalah “dendam KPK” yang terlontar oleh OC Kaligis janganlah di cermati sebagai hal penting karena KPK ingin berjalan Sesuai “KORIDOR” yang telah diatur.

OC Kaligis memberikan Pencerahan bagi Masyarakat luas tentang :”Penanganan sang “Walter Payne” Indonesia.Jika “Mafia” telah dilegalkan dalam hal berbagai Satgas dan Panja DPR RI maka kita harus siap memasuki era MAFIASO.

Substansi masalah PERAMPOKAN DANA NEGARA dalam kasus M Nazaruddin jangan teranulir dengan cerita sang Al Capone.