Senandung Bersama Sang Pelacur


Semalam,
Semalam aku berjalan merenda harap pada jalan ibukota ini,
Yang..menurut riwayat adalah tanah tumpah darah koe….dimana sang kawan dr timur bernyanyi sebagai tumpah darah beta!
Dimana sang chairil bersajak dengan BETA PATI RAJAWANE dijaga datu datu Cuma satu!

Letih menyergap dan dingin menyengat,
Kuparkir sandal djepitkoe pada latar sebuah koridor rumah gaya feodalisme
Perlahan rokokku yang tinggal 2 batang aku keluarkan, menyalakannya
Dan melihat NUSANTARA (enggan aku memakai Indonesia krn ia sedang sakit keras)

Satu orang pelacur termenung diam, sakitnya terasa padaku
Dengan perlahan aku dekati ia,,menyapanya dengan santun dan hormat seperti pada mbakku dikampung,,karena aku berfikir dia adalah korban!! Bukan pelaku ,maka tunduklah wajah ini (widji tukul)

Ia tersenyum menyeringai menahan sakit, dan mungkin ia berfikir aku lelaki iseng
“biSA saya bantu mas?”
Ndak mbak saya hanya perlu teman bicara karena diam membuat hatiku ramai ujarku membalas
Kamipun berbicara dengan tali dialog yang polos, tanpa tendendius pemanfaatan humanisme
Ia berujar “13 Tahun lalu,,,ya !! 13 Tahun lalu (agak dramAtis memang dengan angka 13nya)
Saya adalah juara kelas disetiap semester yang saya pelajari

Namun realita kadang meski dihadapi dengan logika

Bukan dengan ceramah moral seperti yang Bapak Dewan sering debatkan di TIPI (TV mungkin dia maksud

Bukan seperti BALIHO pilkada yang merupakan Hypermart JANJI
Bukan seperti yang pemuka agama dengan baju yg bagus perdendangkan bagi manusia yg kantungnnya tebal agar sedekah mengalir

Ini saya mas

Dengan realita nyata, dan bukan dongeng………………

Bisa jadi ini karangan dan terlepas dr itu..

inilah INDONESIA,

hal sekecil ini sadja Pemerinta tidak bias menyelesaikan dengan DALIL PROSTITUSI SUDAH ADA SEJAK ZAMAN NABI ADAM,

kemudian bagaimana KORUPSI? Apakah jawabannya akan sama?

Semalam aku berjalan
Dan dalam penatku aku bertemu KENYATAAN
Dan aku tidak pernah bangga menjadi rakyat PARA PEMIMPIN PENDUSTA

This entry was posted in