Ketika saatnya tiba untuk dia meminum racun (sempat tertunda 30
hari), dia memerintahkan istrinya (yang sedang menggendong anaknya)
dibawa pulang karena sang istri menangis terus meskipun dia menghargai
sikap-sikap Sokrates. Pada detik-detik menjelang minum racun dengan
dilihat murid-muridnya, kecuali Plato yang sedang sakit di rumahnya,
semua murid bahkan petugas penjara menangis pilu.
Sokrates tak membenarkan sikap mereka yang sangat lemah bak perempuan (kata Sokrates); seorang filsuf katanya harus tough
di depan kematian! Sokrates memandang kematian sebagai keuntungan,
sebab dia nanti akan bisa berjumpa dengan semua orang baik yang menjadi
korban perlakuan tidak adil, dan para hakim yang adil di Hades, “dunia
tak kasat mata” yang dipercaya ada di bawah permukaan Bumi.
Ketika
saatnya tak bisa ditunda lagi untuk dia mereguk racun dalam cawan,
dengan wajah berseri dan hati gembira dia meminumnya, tapi murid-murid
meratap keras tak tertahan.
Sokrates mati dengan happy and calm!!
IKLAN
Benidictus Tambajong
Dari Tanah Toar Lumimuut bersama bundaku,Gerilya Negriku,bertemu dengan saudara saudara se-Nusantara. Ternyata SIMBOL dan RITUAL sejatinya adalah perilaku atas bersemayamnya AKU dalam diriku.
Torang Memang Samua Basudara Saling Memanusiakan.
I Yayat U Santi !
Torang Memang Samua Basudara Saling Memanusiakan.
I Yayat U Santi !




