Panggung KABARET Indonesia terisi tarian para “Waria”,manusia yang sering diragukan akan status genetika,tapi berpengaruh pada perilaku yang tak “KONSISTEN”.
Para penarinya termasuk Josephine Baker dan penari waria Brasil João Francisco dos Santos (alias Madame Satã) di Import dari Perancis melalui Cartagena,ke Bogota Colombia. Pertunjukan-pertunjukan kabaret dari ragam Andersen dan satire politik partai ala Cikeas yang memang premature karena usia tak cukup bulan dalam kandungan Pertiwi .Pertunjukan episode yang berdurasi 7 X 24 Jam penuh “khalayalan Andersen”dari hiburan ringan hingga sarkasme yang kontroversi.
Penangkapan Abahruddin.mulai dari Café hingga Pangkalan Penerbangan yang punya Serdadu Imigrasi dan Police Interpole sejak tanggal 7 -10 bulan Agustus di negri Pablo Escobar.
Tak terusik media local El Tiempo Dalam berita edisi 8 Agustus dengan judul “Indonesio capturado en Colombia venía a ver el Mundial Sub 20″ (Orang Indonesia ditangkap di Kolombia untuk menonton Piala Dunia U-20), Abahruddin disebutkan siap terbang ke Bogota, ibu kota Kolombia, untuk menonton pertandingan sepak bola.
Disebutkan pula,Abahruddin yang berusia 33 tahun dan lahir di Bangun itu telah tiba di Bogota sejak 22 Juli sebagai turis. Ia menumpang pesawat carteran dari Washington DC, Amerika Serikat.Abahruddin kemudian menetap di Cartagena, Kolombia, dengan menyewa sebuah apartemen di Boca Grande, sebuah kawasan tradisional di Cartagena.
Koran berbahasa Spanyol, El Tiempo menyebutkan, di apartemen itu Abahruddin tinggal bersama dua warga negara Indonesia lainnya yang sama-sama tertangkap saat Abahruddin ditangkap. Tidak dirinci siapa kedua orang Indonesia selain Abahruddin tersebut.(tapi dalam scenario Kabaret mereka adalah Neneng Sri Wahyuni dan Nazir Rahmat).
TERKISAHKAN :
“Abahruddin pulanglah,…….pulanglah” demikian rayuan menghibah,Bambang (Petruk dalam kisah pewayangan Java) tak paham akan posisinya sebagai “Raja”.Hal demikian serius peran antagonis dan protogonis berubah ubah silih berganti dengan suara suara para punggawa yang lantang berkata-kata ,bahkan berteriak :”bahwa Petruk memang pemimpin mereka yang santun dan jujur kacang ijo”,walau menantang sejarah nasib,menembus takdirpun sekalian.
Para punggawa pasang badan demi Bambang dan keluarga ,tersebut sebagaimana tuduhan Abahruddin salah satu anak Bambang menerima “Upeti“. Para “Judas” atau “Brutus” berhasil mempengaruhi pikiran Abahruddin akhirnya beralih dan tanpa menyebutkan anak Bambang.Abahruddin memang pembohong sangat tak mungkin memang anak Bambang terima Upeti untuk apa ?,dalam diam tanya para punggawa.
Panggung Kabaret tak serta merta mereka memahami RAKYAT yang hanya di butuhkan 5 tahun sekali yang rela dibohongi dalam lakon Demokrasi Colombus dengan Slogan “Katakan Tidak Untuk UPETI !” (KTUU).
Dasar Waria Abahruddin menyewa para pengawal yang tanpa disadari adalah “Judas”,dalam kisah penghianatan,”Brutus”,dalam legenda Romawi.Terkisahkan Abahruddin masuk dalam skenario Zionis, memang Abahruddin sama dengan usia partainya di kerajaan Bambang yang masih prematur dalam kancah spionase,apalagi Agen Zionis yang di gerak dari benua temuan Colombus telah terpatri sebagai “Tanah Perjanjian”.Penerus Colombus “bernari atas otak otak kerdil yang hanya ingin selamat”.Tawaran skenariopun disepakati maka Pertunjukan Kabaret berpindah ke Café Udara yang bernilai 4 Milyar Panggung lapis emas,permata dan bagai Gatot Kaca Abahruddin jadi Actor Sinetron.dinanti selama 3 hari penuh cemas banyak yang takut Abahruddin sang Walter Payne di racun arsenik atau panggung roboh dan jatuh ke daerah Rawa Badak.
Ingat posisi peran Abahruddin seperti Walter Payne, orang yang dipercaya mengatur pembukuan keuangan kerajaan mafia pimpinan Al Capone.
Dasar naluri bapak ingin lindungi anaknya sekalian partainya,entah apalah yang disepakati semoga tak menjual negri ini lagi untuk “selamat sesaat” mirip sejarah 46 tahun silam.”Saat saat Kelam Indonesiaku”.
Perpindahan Café udara dengan panggung termahal bernilai 4 Milyar diambil dari uang negri yang konon rakyatnya masih miskin miskin.
Pertunjukan berlangsung tanggal 10 hingga 14 di bulan Agustus.dikisahkan Bambang adalah Petruk dalam kisah Java memang terpaksa jadi Raja Kancil mengikuti kcenario tersebut.Abahruddin dan Istri sepakat pisah sesuai kesepakatan dan turun di Negri temuan Colombus.
Abahruddin sang Walter Payne sepakat selamatkan istrinya dan rela pasang badan turun sendiri diatas panggung kabaret udara yang penuh tanya rakyat di kerajaan Bambang.
Harap harap cemas itu terjadi dibenak rakyat negri Kebohongan,demikian pula Satir “Bambang Vs Abahruddin” berakhir dengan pernyataan “Neneng Sri Wahyuni tak turut serta dalam penerbangan yang memang dijadikan panggung kabaret udara.Neneng Sri Wahyuni selamat sebagai hasil kesepakatan “mengamankan KASUS Upeti” walau bersifat sementara.
Saat Panggung Kabaret ini hendak ditutup ada teriakan : “GUSTI ORA SARE”……….
Masing-masing diperkenalkan oleh seorang master of ceremonies (MC), terakhir namaku disebut : Benidictus Vani Tambajong .
“Korupsi telah berlangsung sejalan sejarah Peradaban,mirip Lonte Lonte yang memang tak dapat di basmi”.
Para penarinya termasuk Josephine Baker dan penari waria Brasil João Francisco dos Santos (alias Madame Satã) di Import dari Perancis melalui Cartagena,ke Bogota Colombia. Pertunjukan-pertunjukan kabaret dari ragam Andersen dan satire politik partai ala Cikeas yang memang premature karena usia tak cukup bulan dalam kandungan Pertiwi .Pertunjukan episode yang berdurasi 7 X 24 Jam penuh “khalayalan Andersen”dari hiburan ringan hingga sarkasme yang kontroversi.
Penangkapan Abahruddin.mulai dari Café hingga Pangkalan Penerbangan yang punya Serdadu Imigrasi dan Police Interpole sejak tanggal 7 -10 bulan Agustus di negri Pablo Escobar.
Tak terusik media local El Tiempo Dalam berita edisi 8 Agustus dengan judul “Indonesio capturado en Colombia venía a ver el Mundial Sub 20″ (Orang Indonesia ditangkap di Kolombia untuk menonton Piala Dunia U-20), Abahruddin disebutkan siap terbang ke Bogota, ibu kota Kolombia, untuk menonton pertandingan sepak bola.
Disebutkan pula,Abahruddin yang berusia 33 tahun dan lahir di Bangun itu telah tiba di Bogota sejak 22 Juli sebagai turis. Ia menumpang pesawat carteran dari Washington DC, Amerika Serikat.Abahruddin kemudian menetap di Cartagena, Kolombia, dengan menyewa sebuah apartemen di Boca Grande, sebuah kawasan tradisional di Cartagena.
Koran berbahasa Spanyol, El Tiempo menyebutkan, di apartemen itu Abahruddin tinggal bersama dua warga negara Indonesia lainnya yang sama-sama tertangkap saat Abahruddin ditangkap. Tidak dirinci siapa kedua orang Indonesia selain Abahruddin tersebut.(tapi dalam scenario Kabaret mereka adalah Neneng Sri Wahyuni dan Nazir Rahmat).
TERKISAHKAN :
“Abahruddin pulanglah,…….pulanglah” demikian rayuan menghibah,Bambang (Petruk dalam kisah pewayangan Java) tak paham akan posisinya sebagai “Raja”.Hal demikian serius peran antagonis dan protogonis berubah ubah silih berganti dengan suara suara para punggawa yang lantang berkata-kata ,bahkan berteriak :”bahwa Petruk memang pemimpin mereka yang santun dan jujur kacang ijo”,walau menantang sejarah nasib,menembus takdirpun sekalian.
Para punggawa pasang badan demi Bambang dan keluarga ,tersebut sebagaimana tuduhan Abahruddin salah satu anak Bambang menerima “Upeti“. Para “Judas” atau “Brutus” berhasil mempengaruhi pikiran Abahruddin akhirnya beralih dan tanpa menyebutkan anak Bambang.Abahruddin memang pembohong sangat tak mungkin memang anak Bambang terima Upeti untuk apa ?,dalam diam tanya para punggawa.
Panggung Kabaret tak serta merta mereka memahami RAKYAT yang hanya di butuhkan 5 tahun sekali yang rela dibohongi dalam lakon Demokrasi Colombus dengan Slogan “Katakan Tidak Untuk UPETI !” (KTUU).
Dasar Waria Abahruddin menyewa para pengawal yang tanpa disadari adalah “Judas”,dalam kisah penghianatan,”Brutus”,dalam legenda Romawi.Terkisahkan Abahruddin masuk dalam skenario Zionis, memang Abahruddin sama dengan usia partainya di kerajaan Bambang yang masih prematur dalam kancah spionase,apalagi Agen Zionis yang di gerak dari benua temuan Colombus telah terpatri sebagai “Tanah Perjanjian”.Penerus Colombus “bernari atas otak otak kerdil yang hanya ingin selamat”.Tawaran skenariopun disepakati maka Pertunjukan Kabaret berpindah ke Café Udara yang bernilai 4 Milyar Panggung lapis emas,permata dan bagai Gatot Kaca Abahruddin jadi Actor Sinetron.dinanti selama 3 hari penuh cemas banyak yang takut Abahruddin sang Walter Payne di racun arsenik atau panggung roboh dan jatuh ke daerah Rawa Badak.
Ingat posisi peran Abahruddin seperti Walter Payne, orang yang dipercaya mengatur pembukuan keuangan kerajaan mafia pimpinan Al Capone.
Dasar naluri bapak ingin lindungi anaknya sekalian partainya,entah apalah yang disepakati semoga tak menjual negri ini lagi untuk “selamat sesaat” mirip sejarah 46 tahun silam.”Saat saat Kelam Indonesiaku”.
Perpindahan Café udara dengan panggung termahal bernilai 4 Milyar diambil dari uang negri yang konon rakyatnya masih miskin miskin.
Pertunjukan berlangsung tanggal 10 hingga 14 di bulan Agustus.dikisahkan Bambang adalah Petruk dalam kisah Java memang terpaksa jadi Raja Kancil mengikuti kcenario tersebut.Abahruddin dan Istri sepakat pisah sesuai kesepakatan dan turun di Negri temuan Colombus.
Abahruddin sang Walter Payne sepakat selamatkan istrinya dan rela pasang badan turun sendiri diatas panggung kabaret udara yang penuh tanya rakyat di kerajaan Bambang.
Harap harap cemas itu terjadi dibenak rakyat negri Kebohongan,demikian pula Satir “Bambang Vs Abahruddin” berakhir dengan pernyataan “Neneng Sri Wahyuni tak turut serta dalam penerbangan yang memang dijadikan panggung kabaret udara.Neneng Sri Wahyuni selamat sebagai hasil kesepakatan “mengamankan KASUS Upeti” walau bersifat sementara.
Saat Panggung Kabaret ini hendak ditutup ada teriakan : “GUSTI ORA SARE”……….
Masing-masing diperkenalkan oleh seorang master of ceremonies (MC), terakhir namaku disebut : Benidictus Vani Tambajong .
“Korupsi telah berlangsung sejalan sejarah Peradaban,mirip Lonte Lonte yang memang tak dapat di basmi”.




