Kiamatnya Lembaga Survei

Benarkah disetiap Pilkada tak ada yang menang hanya saja dicurangi ?,atau apakah “mahluk” anomaly yang disebut Danny JA,bagaimana dengan pasangan calon yang pasang target 1 putaran ?.”Atau tak banyak politisi yang punya magnet seperti Jokowi”,bukankah Denny sedang mengakali Foke-Nara,bagaimana dengan 1 putaran?. Bukankah semua survey punya metodologi,mengapa semua survey untuk Pilkada DKI 2012 salah?.

Demikianlah ketika kredibiltas lembaga survey digugat/dipertanyakan.
Bahkan sangat lucu seorang Denny JA mengatakan pada putaran ke 2 akan terjadi “Pertarungan Sengit”,hilanglah akal dia ,untuk apa disurvei prediksi itu?
Kita pernah terperangah dengan kampanye 1 putaran untuk Pilpres 2009 yang di hembus Denny JA namun kondisi saat itu ditunjang banyak hal termasuk operasi “sunyi senyap”.Tahun 2009 ditunjang banyak hal termasuk IT KPU dan dukungan banyak “pihak” berlangsung secara tak adil untuk pasangan Capres lain.Kondisi Pilkada Jakarta berbeda,baik tahun maupun situasi yang mendukung pembodohan,walaupun sempat terhembus issue 1,4 juta suara “hantu”.Artinya dengan mengantongi 20 % suara “hantu” sang calon akan dapat dipastikan menang 1 putaran.
Urusan Pilkada DKI Jakarta menyita banyak perhatian,bagaimana tidak,Jakarta sebagai Ibukota Negara tentu menjadi penting,Mungkin akan tak terpikir fenomena apa yang sedang melanda warga Ibu Kota  terhadap hasil Quiqk Count yang diumumkan LSI (Lembaga Survey Indonesia): Pasangan Calon No 1 Foke –Nara 33.57%,Pasangan No 2  2.05% Pasangan No 3 Jokowi-Ahok 42.74%,Pasangan No 4 HNW-Didiek 11.96%,Pasangan No 5 Faisal-Biem  4.94%,Pasangan No 6 Alex-Nono 4.74%.
Kiamat Survei
Kalangan elit berpendidikan mungkin tak asing dengan survei,demikian juga Partai Politik yang modern diseluruh dunia mengenal dan memahami keakuratan hasil survey.  
Hasil survey Pusat Kajian dan Pembangunan Strategis (Puskaptis ) 27 April 2012, elektabilitas Foke-Nara  mencapai 47,22 %. Posisi ke-2 pasangan Jokowi-Ahok dengan elektabiliats 15,16 %. Disusul Hidayat Nurwahid-Didik J Rachbini 10,28 %, Faisal Basri-Biem Benyamin 3,17 %, Alex Noerdin-Nono Sampono 2,31 %, dan Hendarji Supanjdi-A Riza Patria 1,55 %.

Tanggal 11 July 2012 Direktur Eksikutif  Puskaptis Husin Yazid menjelaskan, masyarakat Jakarta menginginkan adanya perubahan terutama pemimpin yang mampu mengatasi persoalan utama ibu kota yakni banjir dan kemacetan lalu lintas.
"Jokowi dinilai sebagai figur baru yang diharapkan bisa membawa perubahan di Jakarta,"  
Pernyataan yang seharusnya menjadikan seseorang malu,terkait profesinya demikian hal sama dengan mahluk”Anomali”nya Denny JA.
Jika kita perhatikan antara tanggal pengumuman survey 27 April 2012,dan tanggal pelaksanaan Pilkada DKI Jakarta 11 Juli 2012,hanya dalam waktu 74 hari perubahan drastic  terjadi 
Pasangan calon Gubernur DKI No 1 Foke –Nahra   mendapat 33,57 % dari hasil survey 47,22 % selisih penurunan 13,65 %.Sedangkan pasangan calon Gubernur no 3 Jokowi-Basuki dari hasil survey 15,16 % mendapat 42,74 % mengalami kenaikan 27,58 %.
Dari angka optimis berbagai  lembaga survey menjadikan kita bertanya adakah kreadilitas Lembaga Survei,berapa margin  error sehingga semua bisa  terjawab dengan alasan “anomali”.

Pemilihan Gubernur DKI Jakarta mendapat perhatian banyak pihak bukan saja warga Jakarta ,namun warga daerah juga memberikan kontribusi,perhatian bahkan support.Sebuah contoh nyata ,tak terbantahkan bagaimana warga Solo mendukung Jokowi dengan tulus.Bukan tak mungkin support keluarga dari daerah memberikan andil kemenangan Jokowi di Jakarta.
Jokowi menyadarkan Partai Politik untuk berhati hati dengan Lembaga Survei,sebab dalam banyak hal sering kejar setoran dan  ABS pada pihak yang membayar.