Om Alex Maramis mengusulkan
perubahan butir PERTAMA PANCASILA kepada Drs. Mohammad Hatta setelah
berkonsultasi dengan Teuku Muhammad Hassan, Kasman Singodimedjo dan Ki
Bagus Hadikusumo
Semoga tak akan ada yang marah jika
saya memanggil,Ir Soekarno (Bung Karno) dengan ” Om Karno”,tak bermaksud
apa apa tetapi sebagai anak bangsa mencoba mendekatkan diri pada sosok
Bung Karno yang ku banggakan.
“Jadi tuan-tuan barangkali sudah
terang,tunjukanlah jalan agar kita selekas mungkin dapat menyusun hukum
dasar”. (cuplikan Badan Usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia “rapat
panitia hukum dasar tanggal 11 Juni 1945″).
“Trias Politika itulah dulu ditetapkan itu perlu kalau ada kehakiman,polisi dan pengreh praja memuaskan,masyarakat bisa jalan”..……. saat ku baca perkataan Om Alex Maramis .
“Tidak ada pendapat baru yang menganggap tidak cukup”, sela - sela kalimat Om Karno.
“Memang tidak cukup tapi buat peperangan ini sudah cukup”,kata Om Alex.
“Kalau Om Alex baca San Min Cu I,disitu ada alasan yang lebih baik” jawab Om Karno.
“Maksud saya bukan semua itu tidak diterima ,akan 3 itu saja diterima,jadi yang lain lain dimaksukan tetapi belum dijalankan”.……jawab Om Alex.
“Apakah tiga ini sudah cukup menjalankan Keadilan Sosial” ,Om Karno mempertanyakan seakan akan ragu,karena jiwa Om Karno benar benar untuk rakyat.
Itulah beberapa cuplikan percakapan para tokoh bangsa yang aku ingat dari apa yang pernah di baca.
Mengenai Mr. Maramis , atau yang saya
sapa waktu masih di Batavia “Oom Alex Maramis” dan istrinya “Tante
Bep”. Tante Bep adalah keturunan Belanda.
Rumah Om Alex Maramis yang berada tepat dipojok didepan setasiun Gambir, atau disebelah Gereja “Willemskerk”.
Rumahnya besar sekali (lazimnya rumah2 doeloe) ada Tante Hilda dan Tante Antje sama sama menempati rumah itu.
Rumah Om Alex Maramis yang berada tepat dipojok didepan setasiun Gambir, atau disebelah Gereja “Willemskerk”.
Rumahnya besar sekali (lazimnya rumah2 doeloe) ada Tante Hilda dan Tante Antje sama sama menempati rumah itu.
Kota Manado saksi kelahiran Alexander
Andries Maramis, tanggal 20 Juni 1887,pada saat Belanda melancarkan
Agresi militer ke II, beliau ditunjuk menjadi Menteri Luar Negeri
Pemerintah Darurat RI (PDRI) yang berkedudukan di New Delhi, India.
Semasa hidupnya Beliau pernah juga menjabat sebagai Duta Besar RI
untuk Filipina, Jerman Barat dan Rusia.
Bersama Dr. Mohammad Hatta, Mr. Sunarjo, Mr. Achmad Soebardjo dan Mr. A.G. Pringgodigdo, beliau termasuk dalam “Panitia Lima” yang ditugaskan Pemerintah untuk merumuskan Pancasila. Beliau adalah anggota KNIP, Menteri Keuangan pertama Republik Indonesia dan merupakan orang yang menandatangani Oeang Republik Indonesia pada tahun 1945. Adik kandung Maria Walanda Maramis ini menyelesaikan pendidikannya dalam bidang hukum pada tahun 1924 di Belanda.
Semasa remaja beliau bersekolah di ELS (European Elementary School), pada tahun 1911. Pada tahun 1918, beliau melanjutkan sekolah ke HBS dan kuliah di Fakultas Hukum, Universitas Leiden, Belanda, lulus dengan gelar “Meester in de Rechten” (Mr) pada tahun 1924.
Bersama Dr. Mohammad Hatta, Mr. Sunarjo, Mr. Achmad Soebardjo dan Mr. A.G. Pringgodigdo, beliau termasuk dalam “Panitia Lima” yang ditugaskan Pemerintah untuk merumuskan Pancasila. Beliau adalah anggota KNIP, Menteri Keuangan pertama Republik Indonesia dan merupakan orang yang menandatangani Oeang Republik Indonesia pada tahun 1945. Adik kandung Maria Walanda Maramis ini menyelesaikan pendidikannya dalam bidang hukum pada tahun 1924 di Belanda.
Semasa remaja beliau bersekolah di ELS (European Elementary School), pada tahun 1911. Pada tahun 1918, beliau melanjutkan sekolah ke HBS dan kuliah di Fakultas Hukum, Universitas Leiden, Belanda, lulus dengan gelar “Meester in de Rechten” (Mr) pada tahun 1924.
Mr. A.A. Maramis adalah salah satu orang
yang merumuskan dan menandatangani Piagam Jakarta tanggal 22 Juni
1945. Bersama dengan Ir. Soekarno, Mohammad Hatta, Abikoesno
Tjokrosoejoso, Abdul Kahar Muzakir, H.A. Salim, Achmad Subardjo, Wahid
Hasjim, dan Muhammad Yamin.
Catatan seadanya ini untuk mengingatkan
saya sebagai umat Nasrani (Kristen Katolik) betapa keberadaanku diantara
saudara saudaraku yang beragama Islam,Hindu,Budha,Khong Hu Tju,telah
ada seorang “Om Alex yang juga sama berada diantara Om Karno Cs yang
beragama Islam”.
Saat ini jangan ada rasa was sangka akan “Minoritas” dan “Mayoritas” tetapi bagaimana kita sebagai umat nasrani (minoritas*Hindu,Budha,Khong Hu Tju) memberikan kontribusi terbaik untuk bangsa ini.
Kebersamaan rasa dapat mengatasi kondisi kekinian dimana issue agama diperbincangkan,cuci otak ala NII Kw 9 yang dianggap sebagai ancaman Ideologie .
Termasuk kebersamaan menangkal issue dan gerakan Terorisme yang sering membuat sahabat sahabat beragama muslim “panas kuping” , sebab Islam adalah Agama Cinta Damai,bukanlah seperti apa yang di implementasi dalam gerakan Radikal, “jihad”,dan praktek kekerasan.
Saat kekinian terasa bagaimana kami merindukan sebuah suasana Damai,Aman,Rukun,Damai,dalam keragaman Agama bernaung pada Ideologie Negara Republik Indonesia “PANCASILA”.
Saat ini jangan ada rasa was sangka akan “Minoritas” dan “Mayoritas” tetapi bagaimana kita sebagai umat nasrani (minoritas*Hindu,Budha,Khong Hu Tju) memberikan kontribusi terbaik untuk bangsa ini.
Kebersamaan rasa dapat mengatasi kondisi kekinian dimana issue agama diperbincangkan,cuci otak ala NII Kw 9 yang dianggap sebagai ancaman Ideologie .
Termasuk kebersamaan menangkal issue dan gerakan Terorisme yang sering membuat sahabat sahabat beragama muslim “panas kuping” , sebab Islam adalah Agama Cinta Damai,bukanlah seperti apa yang di implementasi dalam gerakan Radikal, “jihad”,dan praktek kekerasan.
Saat kekinian terasa bagaimana kami merindukan sebuah suasana Damai,Aman,Rukun,Damai,dalam keragaman Agama bernaung pada Ideologie Negara Republik Indonesia “PANCASILA”.
Ya Allah saya Benidictus Tambajong menjelang subuh bersamaMU ,mohon naungi Bangsa Indonesia,tentramkan negriku.Amin,
Salam Pancasila Abadi !.




