Ihklas Tanpa Bobot Agar Tak Kecewa
Mungkin hidup 45 tahun bukan tentu saya pada ambang sadar akan kehidupan yang sebenaranya terjadi,sangat relatif setiap manusia demikian pula saya.Sejak usia remaja melihat kondisi ibuku seorang diri memelihara saya termasuk menyekolahkan.Ibu seorang penjual kue basah (dodol),bahan baku banyak dan ada disekitar tempat kelahiranku (Kelapa,Beras ketan,kenari,gula aren)Usia remaja saya mungkin diisi dengan aktivitas kepemudaan baik kegiatan rohani,pramuka,dan kegiatan OSIS.Terpaan kesulitan ekonomi mengharuskan saya berusaha membantu ibu jadi sejak SMA hingga Mahasiswa saya bekerja,dari sinilah saya memahami arti HIDUP.Kepekaan sosial mungkin telah berproses sejak kecil melihat kondisi lingkungan terdekat saya dengan kesehariannya,ibu dan para tetangga demikian ibu sering membawa saya ke pasar menemui para sahabatnya yang jualan sayur mayur serta ikan dan daging.Ada pengalaman yang saya saksikan sendiri saat ibu membantu seorang anak muda dalam kondisi yg prihatin kuliah (saat saya masih SMP).Anak muda itu sukses tapi saya dapatkan sekelumit cerita sedih pada saat ibu menagih uang pinjaman .Anak muda sukses itu berkata "Saya akan membayar uang itu dengan cara mencicil silahkan laporkan pada polisi saya siap hadapi".Wahhhh saya telah memahami benar karena posisi saat itu kuliah semester 3 ,dan anak muda sukses tadi telah menjadi seorang Sarjana Hukum.Saya membayangkan ucapan yang dikeluarkan dari seorang yang memahami hukum tentu telah dipikirkan konseskwensi dari ucapannya."Mama tak usah nagih lagi".....demikian usulan saya padanya,"Saya ihklas membantunya,tagihan tadi hanya untuk mengingatkan agar dia ingat akan kewajibannya,dia seorang Sarjana Hukum tentu harus berpandangan ADIL, dan Bertanggung Jawab" demikian jawaban ibu saya .Demikian saya menjalani keseharianku apa adanya dan tak jarang memeberikan suport pada sahabat dimana saya berada,Ada Pengalaman yang sama dengan ibuku,dan sangat bervariasi kadang kita membantu dengan ihklas sering mereka abaikan mengembalikan,ada kalanya giliran saya sulit tak ada yang memberikannya.Sama halnya dengan ruang istirahat (rumah pondokan).Saya sering memberikan tumpangan tentu tanpa memikirkan saya dulu tak memperoleh kesempatan yang sama dengan orang yang bernasib baik ketemu denganku.Kunci yang saya dapati dari rangkaian cerita usang diatas adalah : Saat anda memberikan sesuatu apapun jangan serta merta berharap menitip"Bobot" yang sama alias dikembalikan (kwantitas) yang sama pula bahkan lebih.Segala pemberian dan segala apa yang terjadi adalah "Jodoh" Ihklaskan terhadap apa yang kau berikan/kerjakan untuk sesamamu.SAYA JAMIN ANDA TAK AKAN KECEWA,apalagi MEMBENCI !




